Pada 12 November 2011 kantor berita VOA Indonesia menuliskan berita yang agak mengecewakan bagi saya. Iris Gera dari VOA Indonesia mengabarkan Perbankan Dinilai Belum Maksimal Dukung Upaya Perbaikan Ekonomi bahwa meskipun Bank Indonesia (BI) telah menurunkan suku bunga BI rate akan tetapi kebijakan ini tidak serta merta diikuti pelaku perbankan di Indonesia. Bank-bank di Indonesia tetap memberlakukan suku bunga yang tinggi. Suku bunga tinggi mempengaruhi iklim usaha di Indonesia mengingat 20 persen pengusaha Indonesia memulai bisnis dari pinjaman bank.
Ketidaksesuaian kebijakan BI dan dunia perbankan di Indonesia ini dimungkinkan karena pihak perbankan masih melakukan adjusment terhadap rancangan bisnis bank. Penerapan BI rate terhadap peminjam modal bank sangat mungkin akan terlambat. Hal ini berperan vital bagi perkembangan dunia bisnis di Indonesia khususnya, dan umumnya terhadap bidang perekonomian nasional di tengah krisis keungan global yang belum pulih. Keadaan krisis global mengharuskan setiap pengusaha jeli menentukan kebijakan keuangan agar usaha tetap berjalan dan mencapai optimal profit.
Krisis ekonomi global saat ini tengah berlangsung di seluruh dunia. Tidak ada satupun negara di dunia ini yang terlepas dari pengaruh krisis keuangan yang berimbas pada segala bidang kehidupan. Krisis global bermula dengan kejatuhan ekonomi Amerika Serikat (AS) pada tahun 2008. Efek domino krisis tersebut pun berimbas ke benua Eropa dan mempengaruhi kawasan ekonomi dunia lainnya.
Sebuah peristiwa terkini yang terjadi di sebuah negara akan segera berimbas terhadap negara-negara lain di kawasan tersebut. Misalnya krisis ekonomi Yunani yang diikuti kebangkrutan negara Italia, Spanyol, Inggris dan sejumlah negara Eropa lain. Sejumlah pakar ekonomi memprediksi puncak krisis ekonomi global ini akan berlangsung pada tahun 2013. Perkiraan tersebut didasarkan pada beberapa faktor penting yang saling terkait satu sama lain.
Pertumbuhan Ekonomi BRIC Lambat
Faktor pertama yang mempengaruhi krisis global 2013 adalah perlambatan pertumbuhan ekonomi yang dialami oleh kwartet BRIC (Brazil, Russia, India dan China). Empat negara BRIC tersebut selama ini didengung-dengungkan akan mampu mengalahkan dominasi ekonomi AS dan Eropa. Namun nyatanya, mereka tetap terpengaruh imbas krisis global saat ini. Sekali lagi, ekonomi BRIC diprediksi akan mampu bangkit berkat limpahan sumber daya alam dan jumlah penduduk yang banyak.
Bagaimana dengan strategi ekonomi yang digunakan oleh negara-negara BRIC untuk meminimalkan efek krisis global? Setiap negara akan tampil dengan karakteristik ekonomi masing-masing. Masyarakat China tidak memiliki daya beli untuk mengkonsumi produk murah mereka dan hampir semuanya diekspor. Ketika ekonomi global lesu, pasar ekspor China juga terhambat. China menggunakan strategi yang sama dengan yang digunakan oleh Indonesia, yaitu peningkatan daya beli konsumen dalam negeri.
Selama ini ekonomi China tergantung kepada pendapatan komoditi ekspor yang menguasai sebagian besar wilayah dunia. Saat krisis ekonomi global melanda dunia, China kembali berusaha meningkatkan daya beli masyarakatnya sehingga membanjirnya produk China dapat terserap kembali oleh pembeli yang berasal dari dalam negeri. Kasus yang sama terjadi di negara kita saat ini.
Waspada Sentimen Positif Investasi Jangka Pendek
Pekan ini sempat terjadi penguatan mata uang Euro terhadap Dollar Amerika (US Dollar). Apakah hal ini sebuah sinyal positif bagi perbaikan ekonomi global? Saya kita tidak demikian. Penguatan Euro terhadap US Dollar ini memang terjadi namun bersifat sementara. Sentimen positif muncul karena efek pasar mencari keuntungan jangka pendek. Yang patut diwaspadai dan diperhatikan oleh setiap pelaku ekonomi adalah investasi jangka panjang yang mampu memberikan perbaikan terhadap ekonomi global.
Lalu, bagaimana persiapan Indonesia menghadapi puncak krisis global pada tahun 2013? Pemerintah hendaknya fokus kepada bagaimana mencermati perkembangan ekonomi global ke depan sehingga ekonomi Indonesia turut memiliki perkembangan bagus. Indonesia jangan sampai dibuat bingung oleh konstelasi politik dunia yang menyeret pada bidang ekonomi dan bidang-bidang lainnya. Menyetorkan ‘upeti’ kepada IMF merupakan sebuah blunder Pemerintah saat ini.
Jika kita mendasarkan pertumbuhan ekonomi sebuah negara kepada jumlah nilai perdagangan, maka pasar dagang Indonesia minimal terdiri dari 3 elemen. Tiga hal tersebut adalah pasar ekspor, belanja rutin Pemerintah, dan konsumsi masyarakat dalam negeri. Walau banyak kalangan yang pesimis terhadap laju ekspor Indonesia di masa mendatang, pasar ekspor merupakan sumber pendapatan negara yang harus tetap kita optimalkan saat ini.
Fokus Indonesia Pada Ekspor Non-Energi
Indonesia tidak bisa hanya mengandalkan konsumsi dalam negeri. Indonesia juga harus aktif dalam perdagangan antar negara. Lantas, bagaimana Indonesia mampu melakukan ekspor bila negara tujuan ekspor mengalami krisis ekonomi? Inilah saatnya para pemimpin kreatif dan inovatif tampil ke depan. Indonesia tidak boleh hanya fokus ke tujuan ekspor konvensional, yaitu AS dan Eropa. Indonesia juga harus menjajaki peluang ekspor ke negara-negara selain dua kawasan ekonomi tersebut.
Negara-negara mana saja yang menjadi tujuan alternatif bagi penguatan pasar ekspor Indonesia? Setidaknya terdapat tiga kawasan potensial tujuan ekspor Indonesia selain negara BRIC, yaitu kawasan Timur Tengah, Afrika dan Amerika Latin (Amerika Selatan). Bukankah negara-negara di kawasan tersebut memiliki komiditi yang serupa dengan Indonesia? Apakah Indonesia mampu bersaing dalam perdagangan antar negara?
Jika kita merujuk kepada nilai ekspor Indonesia akhir-akhir ini, memang tidak terlalu menggembirakan. Mengingat efek perlambatan ekonomi global terintegrasi dengan kawasan lain. Terlebih lagi dengan kemunculan sejumlah krisis ekonomi di negara-negara langganan ekspor. Namun saya tetap optimis Indonesia masih memiliki peluang pada komoditas ekspor berbasis sumber daya alam non-energi. Misalnya hasil pertanian, pertambangan logam, minyak kelapa sawit, cocoa, dan produk pangan lain.
Penguatan Ekonomi Dari Dalam dan Luar
Dari sejumlah kawasan potensial perdagangan ekspor Indonesia, tujuan ekspor akan mengerucut ke wilayah Timur Tengah dan Amerika Latin. Dua kawasan tersebut terbilang relatif tidak rentan terhadap imbas kemerosotan ekonomi AS dan Eropa. Oleh karena itu, Pemerintah Indonesia sejak saat ini harus melakukan dialog kerjasama dengan negara-negara di kawasan tersebut untuk menjajaki berbagai kemungkinan peningkatan volume perdagangan antar negara.
Walaupun angka kemiskinan diklaim semakin menurun oleh Pemerintah yang berkuasa saat ini, namun masalahnya bukan pada angka dan data statistik. Yang lebih penting adalah pemerataan ekonomi dan peningkatan daya beli masyarakat. Dengan demikian, ekonomi Indonesia akan mampu bangkit secara bertahap dengan mengedepankan peningkatan daya beli masyarakat dan peningkatan volume ekspor Indonesai ke luar negeri.

wow krisis 2013
Posted by hendra | 27 November 2012, 13:12