Semenanjung Balkan, terutama negara-negara pecahan Yugoslavia, merupakan kawasan yang memiliki peran strategis bagi masyarakat Eropa dan Asia. Balkanisasi adalah proses pemecah-belahan wilayah Yugoslavia sehingga menjadi negara-negara kecil. Kepentingan politik, ekonomi dan isu pertahanan keamanan menjadi latar belakang mengapa NATO dan Amerika bersikeras melakukan pemecahan wilayah Balkan dengan dalih demokrasi dan penegakan HAM.
Oleh karena itu, banyak pihak yang berkepentingan untuk menguasai dan memecah belah negara Yugoslavia. Mulai dari Jerman, Amerika, Rusia, hingga NATO, semua ingin menancapkan kekuasaan di semenanjung Balkan. Saat ini nama Yugoslavia telah hilang seiring dengan kemunculan negara-negara eks-Yugoslavia, yaitu Slovenia, Kroasia, Bosnia Herzegovina, Serbia, Montenegro, dan Makedonia.
Desentralisasi kekuasaan pasca bubarnya komunisme melahirkan konflik dengan latar belakang perbedaan agama, budaya dan kecemburuan sosial. Ketidakstabilan kondisi negara inilah yang menjadikan alasan mengapa NATO dan Amerika perlu menerjunkan ribuan pasukannya di Balkan dalam jangka waktu yang lama. Padahal yang mereka incar lebih dari itu.
Otonomi Daerah Berpotensi Perpecahan
Apa yang terjadi di kawasan Balkan sebenarnya memiliki kondisi yang serupa dengan wilayah Indonesia bagian Timur. Dengan didahului lepasnya wilayah Timor Timur (TimTim) dari pangkuan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI), saat ini perhatian kita tertuju pada konflik yang terjadi di wilayah Indonesia Timur, yaitu Papua dan Maluku. Keterlibatan pihak asing disana terlihat sangat jelas dengan adanya bukti penduduk setempat dilatih dan bergerak terorganisir dengan rapi ala militer.
Selain itu, sejak era reformasi bergulir di Indonesia, desentralisasi kekuasaan pusat telah melahirkan era otonomi daerah hingga pada prakteknya berada dalam tahap yang memprihatinkan. Reformasi kekuasaan yang kebablasan melahirkan bentrokan antar kepentingan karena keragaman agama dan budaya yang dimiliki oleh Indonesia. Kondisi ini sama persis dengan yang terjadi di negara-negara eks-Yugoslavia. Warga muslim Bosnia dan penduduk Kristen Serbia diadu-domba sehingga mereka saling bertikai.
Pihak asing terus mengekspos berbagai bentuk kecemburuan sosial di Indonesia melalui Lembaga Swadaya Masyarakat atau NGO yang mereka bentuk, baik yang berada di Indonesia maupun di luar negeri. Sebuah peristiwa lokal akan dibesar-besarkan sebagai kejadian umum yang mewakili kondisi global sebuah wilayah. NGO-NGO yang mendukung Balkanisasi Indonesia tersebar di berbagai wilayah di dunia. Mulai dari benua Asia, Eropa, Amerika, hingga kawasan Australia-Oceania.
Membutuhkan Kepemimpinan Kuat dan Stabil
Apa yang bisa kita lakukan untuk menghadapi Balkanisasi kawasan Indonesia Timur oleh pihak asing? Hal pertama yang wajib dimiliki oleh Indonesia adalah pemimpin negara yang tangguh dan tidak berpendirian labil. Selain itu, kita membutuhkan Pemerintahan yang memiliki tentara kuat dan stabil serta memiliki karakter yang kokoh dan disegani oleh negara luar.
Setiap pemimpin daerah juga harus berhati-hati dalam menerapkan prinsip desentralisasi kekuasaan dan tata ruang wilayah Indonesia. Keterlibatan pihak asing atas nama membantu penyelesaian masalah belum tentu tepat. Karena berkaca pada konflik yang terjadi di negara-negara bekas Yugoslavia, NGO asing seringkali ditunggangi kepentingan intelijen asing yang memiliki misi bertentangan dengan prinsip kesatuan dalam negeri.
Informasi dan pemberitaan yang tidak mendukung persatuan bangsa Indonesia perlu dilawan dengan upaya dan tindakan nyata di masyarakat. Pemerintah berperan penting dalam mengantisipasi arah laju proses demokrasi sehingga memiliki kontrol yang jelas seiring laju reformasi berbangsa dan bernegara. Indonesia pasti bisa bangkit kembali jika tidak dikhianati oleh para pemimpin yang menjual hukum kepada kepentingan pihak asing.
Semoga tulisan ini bisa memberi inspirasi bagi kita semua dalam usaha menjaga keutuhan NKRI berdasarkan Pancasila dan UUD 1945. Bersatulah Indonesia!
perhatikan Greenaatec:kerja sama China dan Australia
Posted by Andre Isakandar | 14 Maret 2013, 22:28